Gotong Royong Jadi Kunci Jembatan Timur Suriah - Simanindo

Hot

Post Top Ad

Selasa, 03 Februari 2026

Gotong Royong Jadi Kunci Jembatan Timur Suriah

Warga Deir Ezzour, Raqqa, dan Hasakah kini tampak mengandalkan gotong royong untuk mempermudah transportasi di wilayah Timur Suriah. Jalan-jalan yang menghubungkan kota-kota ini sebagian besar masih membutuhkan perbaikan dan pemeliharaan darurat.

Dalam perjalanan dari Deir Ezzour ke Al-Hasakah, terlihat sejumlah struktur buatan manusia sederhana yang mempermudah akses transportasi. Struktur ini berupa jembatan kecil atau elevated road dengan pipa beton besar sebagai penyangga.

Pipa beton tersebut digunakan sebagai kolom untuk menopang jalan agar tidak terendam saat banjir musiman sungai Euphrates atau anak-anaknya. Metode ini murah, cepat, dan menjadi solusi praktis pasca-konflik.

Kondisi jalan sendiri masih banyak yang rusak dan berlubang. Pengendara sering harus berhati-hati melewati bagian yang rendah atau dekat saluran irigasi.

Warga lokal sering bekerja sama membangun atau memperbaiki jembatan kecil semi permanen. Gotong royong menjadi cara paling efektif mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah.

Pemerintah Suriah kemungkinan baru bisa membangun secara permanen setelah APBN 2027 disahkan. Keterbatasan dana membuat proyek besar masih tertunda.

Sementara itu, struktur pemerintahan lama pasca-SDF tetap menjalankan tugas administratif dan perbaikan darurat jalan. Fungsi ini penting untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat.
Keterlambatan dana menyebabkan wilayah Timur Suriah tetap otonom secara de facto. Penduduk mengelola kebutuhan transportasi dan logistik secara mandiri.

Dalam video perjalanan di jalur Deir Ezzour–Hasakah, terlihat banyak jembatan kecil dengan penyangga berupa pipa besar. Struktur ini terlihat kasar, tapi fungsional.

Jenis jembatan ini disebut culvert bridge atau box culvert. Mereka menahan badan jalan di atas saluran air dan lembah kering.

Pembuatan jembatan semi permanen ini biasanya dilakukan oleh warga dan kontraktor lokal. Material yang digunakan sederhana, namun cukup kuat menahan kendaraan ringan dan sedang.

Netizen yang menonton video mengomentari kondisi jalan rusak yang jarang diperbaiki SDF atau QSD. Fokus mereka lebih ke proyek besar seperti terowongan.

Jalan raya Timur Suriah menjadi kombinasi antara perbaikan darurat dan konstruksi improvisasi. Hal ini mencerminkan pasca-konflik dan keterbatasan anggaran.

Warga menggunakan pipa beton precast besar yang ditumpuk vertikal untuk mengangkat jalan. Teknik ini menghemat biaya dibandingkan membangun jembatan permanen.

Saluran irigasi dan wadi sering dilintasi jembatan kecil semi permanen. Pipa besar tidak hanya penyangga, tapi juga membantu drainase air.

Kondisi ini menuntut warga kreatif dan bersatu. Gotong royong menjadi praktik sosial yang krusial agar transportasi tetap berjalan.

Walau sederhana, struktur ini cukup aman untuk kendaraan roda empat. Namun kendaraan berat harus melewati jalur alternatif atau hati-hati melintas.

Sistem jalan yang ada juga mendukung ekonomi lokal. Petani dan pedagang tetap bisa mengangkut hasil panen meski infrastruktur terbatas.

Keterbatasan anggaran pemerintah memaksa daerah Timur Suriah beradaptasi. Otonomi de facto tetap berjalan sampai dana besar tersedia.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, warga diperkirakan akan terus mengandalkan gotong royong. Perbaikan permanen baru mungkin muncul setelah APBN 2027.

Transportasi di Timur Suriah mencerminkan ketahanan komunitas. Kreativitas, solidaritas, dan improvisasi menjadi jawaban warga menghadapi keterbatasan.

Post Top Ad