Sebuah cuitan kontroversial di platform X kembali memicu perdebatan panas tentang dasar pembentukan negara India modern. Tweet yang diunggah akun @ErrolTostigson pada 28 Januari 2026 itu menyebut bahwa India pada dasarnya adalah “tahap akhir proyek Uni Eropa”, sebuah persatuan besar yang dipaksakan dari beragam entitas yang seharusnya berdiri sendiri.
Dalam unggahannya, penulis secara terang menyatakan bahwa “India sebagai sebuah negara seharusnya tidak ada”. Menurutnya, India modern bukanlah satu bangsa alami, melainkan hasil campur-aduk puluhan bahkan ratusan entitas politik yang disatukan oleh kekuasaan kolonial Inggris.
Ia berpendapat, sebelum 1947 wilayah India tidak pernah benar-benar menjadi satu negara tunggal. Yang ada hanyalah mosaik kerajaan, wilayah adat, dan unit politik regional dengan identitas, bahasa, dan kepentingan yang berbeda-beda.
Ketika Inggris memutuskan angkat kaki pada 1947, menurut cuitan tersebut, seharusnya wilayah anak benua India terpecah menjadi banyak negara kecil yang merdeka, bukan dipertahankan sebagai satu negara raksasa seperti saat ini.
Sebagai pendukung argumennya, penulis menyertakan sebuah peta historis India Britania periode 1934–1947. Peta itu menggambarkan kompleksitas politik India menjelang kemerdekaan dengan detail yang jarang ditampilkan dalam narasi populer.
Terlihat jelas pembagian antara provinsi-provinsi yang dikelola langsung oleh Inggris, seperti Punjab, Bengal, dan Madras, dengan ratusan negara pangeran yang bersifat semi-otonom. Kerajaan-kerajaan lokal seperti Hyderabad, Mysore, dan Travancore ditampilkan dengan warna berbeda untuk menegaskan posisinya yang terpisah.
Selain itu, wilayah-wilayah perbatasan seperti Baluchistan, North-West Frontier Province, serta Assam juga ditampilkan, memperlihatkan betapa luas dan beragamnya wilayah yang kemudian disebut “India”.
Peta tersebut juga menampilkan negara-negara tetangga seperti Afghanistan, Nepal, Bhutan, Birmania, Ceylon, hingga Maladewa untuk memberikan konteks regional. Labelnya menggunakan bahasa Spanyol dan disertai catatan bahwa peta itu merupakan rekonstruksi berbasis data historis yang akurat.
Tujuan utama visual tersebut, menurut banyak pembaca, adalah menekankan bahwa persatuan India adalah hasil rekayasa administratif kolonial, bukan proses alamiah yang tumbuh dari identitas bersama yang solid.
Cuitan itu pun viral, dilihat lebih dari 72 ribu kali dan memicu ribuan interaksi. Kolom komentar dan quote tweet dipenuhi perdebatan tajam dari berbagai sudut pandang.
Sebagian pengguna setuju dengan analogi “tahap akhir proyek Uni Eropa”. Mereka menilai India adalah contoh ekstrem dari penyatuan paksa berbagai entitas berbeda di bawah satu kerangka negara, dengan pusat kekuasaan yang dominan.
Beberapa komentar menyinggung kasus historis seperti Hyderabad, sebuah negara pangeran besar yang ingin merdeka namun akhirnya dipaksa bergabung dengan India melalui operasi militer pada 1948. Bagi mereka, ini adalah bukti bahwa persatuan India tidak selalu sukarela.
Namun, penolakan keras juga datang dari banyak pengguna India. Mereka menyebut pandangan tersebut sebagai “coping”, provokatif, bahkan bodoh, karena mengabaikan sejarah panjang keterhubungan budaya dan agama di anak benua India.
Para penentang argumen tersebut menegaskan bahwa India telah terhubung sejak ribuan tahun lalu melalui kitab-kitab suci, epos, jaringan ziarah, serta konsep peradaban bersama yang melampaui batas politik kerajaan.
Bagi kelompok ini, India bukan sekadar negara modern, melainkan sebuah “peradaban” yang memang wajar bersatu kembali setelah periode kolonial berakhir.
Perdebatan ini menunjukkan adanya dua cara pandang yang sangat berbeda tentang negara-bangsa. Satu melihat India sebagai konstruksi kolonial yang rapuh, sementara yang lain melihatnya sebagai entitas peradaban kuno yang akhirnya menemukan bentuk politiknya.
Isu ini juga menyentuh sensitivitas nasionalisme India modern, yang kini menjadi salah satu identitas nasional paling kuat di dunia seiring posisi India sebagai negara terpadat secara populasi.
Tak sedikit pengamat menilai cuitan tersebut sengaja memancing kontroversi dengan menantang fondasi identitas nasional India, terutama di tengah menguatnya nasionalisme dan peran global New Delhi.
Terlepas dari setuju atau tidak, perdebatan ini mengungkap satu hal penting, bahwa batas-batas negara modern sering kali lahir dari proses sejarah yang kompleks, penuh kompromi, konflik, dan warisan kolonial.
Viralnya cuitan ini menunjukkan bahwa pertanyaan tentang “siapa kita sebagai bangsa” masih menjadi topik sensitif dan relevan, bahkan hampir delapan dekade setelah India merdeka.
Dan di era media sosial, diskusi semacam itu dapat menyebar luas hanya lewat satu peta, satu kalimat provokatif, dan satu analogi yang menusuk.
Jika UE Dipaksa Jadi India
Pengandaian jika Uni Eropa jika disatukan secara paksa akan menyerupai India modern kembali memantik perdebatan tentang cara negara besar dibentuk. Analogi ini menyoroti perbedaan mendasar antara persatuan yang tumbuh melalui kompromi ekonomi dan politik dengan persatuan yang lahir dari pembongkaran struktur lama.
India sebelum 1947 bukanlah satu negara tunggal, melainkan kumpulan provinsi kolonial dan ratusan kepangeranan yang berdiri dengan kekayaan, sistem ekonomi, dan legitimasi politik masing-masing. Kepangeranan seperti Hyderabad, Mysore, dan Travancore dikenal sebagai wilayah makmur dengan administrasi yang relatif stabil.
Dalam banyak hal, kerajaan-kerajaan kaya tersebut lebih mirip negara-negara Eropa Barat seperti Jerman, Prancis, atau Belanda. Mereka memiliki basis ekonomi kuat, elit penguasa lokal, jaringan perdagangan, serta kemampuan fiskal yang mandiri.
Namun, setelah kemerdekaan, sebagian besar kepangeranan itu tidak dipertahankan sebagai pilar ekonomi nasional. Mereka dilebur ke dalam satu negara kesatuan melalui tekanan politik dan, dalam beberapa kasus, intervensi militer, seperti yang terjadi pada Hyderabad.
Akibatnya, India kehilangan struktur penopang ekonomi regional yang sebelumnya berdiri relatif mandiri. Negara baru harus membangun sistem ekonomi nasional dari nol, dengan beban integrasi wilayah luas yang sangat beragam secara bahasa, budaya, dan tingkat pembangunan.
Analogi dengan Eropa kemudian muncul. Jika Prancis, Jerman, dan Belanda “diruntuhkan” sebagai negara berdaulat, lalu dipaksa bersatu dalam satu entitas tunggal bernama Uni Eropa, hasilnya kemungkinan besar adalah ketegangan permanen dan ketimpangan struktural, bukan stabilitas.
Perbedaannya, Uni Eropa justru dibangun dengan asumsi sebaliknya. Negara-negara kaya dan kuat tetap dipertahankan utuh, bahkan menjadi mesin ekonomi yang menopang negara-negara anggota lain melalui pasar bersama, investasi, dan mekanisme solidaritas.
Jerman, misalnya, tidak dihapus agar Eropa bersatu. Ia tetap berdiri sebagai negara kuat, dan justru dari kekuatannya itulah Uni Eropa memperoleh daya dorong ekonomi utama.
Dalam konteks ini, India sering dilihat sebagai contoh persatuan yang terlalu dini dan terlalu dipaksakan, tanpa memberi ruang bagi entitas-entitas kuat untuk tetap menjadi penyangga ekonomi nasional secara otonom.
Perbandingan ini bukan untuk meremehkan India modern, melainkan untuk menyoroti bahwa cara membangun persatuan sama pentingnya dengan tujuan persatuan itu sendiri. Sejarah menunjukkan, meruntuhkan pilar-pilar lama tanpa pengganti yang setara dapat menciptakan negara besar yang kuat secara simbolik, tetapi rapuh secara struktural.

