peace
04.05
Kurdi di Kaukasus Selatan memiliki sejarah panjang yang kerap terlupakan di tengah konflik Armenia–Azerbaijan. Secara historis, komunitas Kurdi telah menjadi bagian dari lanskap etnis kawasan ini sejak berabad‑abad lalu.
Di Armenia, Kurdi sebagian besar berakar sebagai komunitas minoritas yang kini banyak beridentifikasi sebagai Yazidi—sebuah kelompok etnis dan agama yang berbahasa Kurmanji. Mereka menjadi salah satu dari sekian sedikit komunitas Kurdi yang terus mempertahankan identitas budaya dan bahasa mereka di negara tersebut.
Senada, dalam sejarah abad ke‑20, Kurdi sempat menikmati fase otonomi di bawah rezim Soviet. Pada 1923, otoritas Soviet membentuk daerah administratif yang sering disebut “Red Kurdistan” di wilayah yang kini termasuk bagian dari Azerbaijan dan dekat perbatasan Armenia.
Red Kurdistan mencakup beberapa distrik seperti Lachin, Kalbajar, Zangilan, dan Jabrail. Sekitar 72 persen penduduknya saat itu adalah Kurdi, dan Lachin ditetapkan sebagai pusatnya. Struktur administratif ini menunjukkan pengakuan awal terhadap keberadaan politik Kurdi di kawasan.
Namun, kebijakan rezim Stalin dan reorganisasi administratif Uni Soviet membuat Red Kurdistan dibubarkan pada 1929. Upaya untuk mengembangkan bahasa dan budaya Kurdi di kawasan terhenti, dan banyak komunitas Kurdi mengalami deportasi atau asimilasi.
Ketika Uni Soviet runtuh pada awal 1990‑an, konflik yang meletus antara Armenia dan Azerbaijan atas Nagorno‑Karabakh mengguncang keadaan etnis di wilayah itu. Kurdi yang tersisa dalam campuran populasi etnis sering terjebak di antara dua negara yang berperang.
Perang Nagorno‑Karabakh (1988–1994) menyebabkan banyak komunitas etnis, termasuk Kurdi, mengungsi dari tanah mereka. Sekitar 80 persen populasi Kurdi di kawasan tersebut melarikan diri atau terpaksa hengkang akibat tragedi perang yang melanda.
Di tengah kekosongan kekuasaan pada masa perang tersebut, muncul gerakan politik Kurdi yang berusaha memanfaatkan momentum konflik besar. Organisasi bernama Caucasian Kurdistan Freedom Movement memimpin deklarasi berdirinya Kurdish Republic of Lachin pada 20 Mei 1992.
Proklamasi ini disambut oleh sebagian kecil warga Kurdi di Lachin dengan upacara yang meriah, memperlihatkan hasrat mereka akan representasi politik dan otonomi. Wekîl Mistefayêv dinyatakan sebagai perdana menteri republik Kurdi yang baru lahir itu.
Namun pembentukan republik itu tak berlangsung lama. Dukungan militer dan politik yang diberikan Armenia kepada gerakan tersebut tidak cukup untuk memastikan keberlanjutan entitas baru itu. Banyak warga Kurdi telah meninggalkan wilayah itu akibat perang.
Seiring perubahan peta geopolitik di Kaukasus, Lachin kemudian menjadi bagian dari kawasan konflik utama antara Armenia dan Azerbaijan. Republik Kurdi yang dibentuk pada 1992 pada akhirnya lenyap ketika realitas perang dan politik mengambil alih.
Dalam dekade berikutnya, populasi Kurdi di Azerbaijan makin berkurang. Beberapa faktor seperti asimilasi kebudayaan—di mana banyak Kurdi tercatat sebagai Azerbaijanis dalam sensus—mengurangi jumlah komunitas Kurdi yang jelas terlihat.
Situasi berbeda terjadi di Armenia, di mana komunitas Kurdi/Yazidi masih mendapatkan ruang budaya dan pendidikan dalam konteks pluralisme etnis negara. Bahasa Kurdi diajarkan di beberapa sekolah dan media budaya Kurdi masih hidup.
Politik identitas Kurdi di Armenia kini berfokus pada representasi sipil. Ada perwakilan Kurdi di parlemen Armenia, termasuk politisi yang menyuarakan isu minoritas serta pelestarian budaya Kurdi dan Yazidi.
Kehidupan Kurdi di kawasan ini juga dipengaruhi oleh konflik Armenia–Azerbaijan yang terus berlanjut. Ketegangan atas Nagorno‑Karabakh dan perbatasan yang belum sepenuhnya dibuka menimbulkan ketidakstabilan, yang berdampak pada minoritas seperti Kurdi.
Perundingan damai antara Armenia dan Azerbaijan yang sedang berlangsung tetap belum menyentuh secara khusus perlindungan hak minoritas Kurdi. Fokus utama masih berkutat pada isu kemerdekaan Karabakh dan demarkasi perbatasan.
Kisah Kurdi di Azerbaijan menunjukkan bahwa kebijakan pemerintahan setempat selama abad ke‑20 dan 21 cenderung mengasimilasi kelompok ini, menghapus jejak identitas mereka, termasuk dalam penggunaan bahasa.
Sementara itu, Kurdi di Armenia sering dipandang sebagai bagian dari komunitas minoritas yang mendapat lebih banyak ruang integrasi, terutama bagi Yazidi, yang memiliki hubungan sejarah panjang di wilayah itu.
Konflik Armenia–Azerbaijan yang membekas hingga kini tetap menjadi faktor utama membentuk masa depan politik Kurdi di kedua negara. Banyak komunitas yang tercerai berai dan hanya sedikit yang mempertahankan identitas kolektif mereka setelah perang.
Walau usaha pendirian republik Kurdi pada 1992 tidak bertahan, kisah tersebut tetap mencerminkan hasrat sebagian Kurdi di wilayah Kaukasus akan pengakuan politik dan identitas budaya mereka.
Politik Kurdi di Armenia dan Azerbaijan hari ini lebih dominan dipengaruhi oleh kebijakan nasional masing-masing negara daripada oleh agenda separatis atau otonomi, berbeda dengan Kurdi di Irak atau Suriah.
Perjalanan politik Kurdi di kawasan ini menjadi pengingat bahwa etnis minoritas seringkali berada di persimpangan konflik besar, dan upaya meraih otonomi atau pengakuan sering terhambat oleh kekuatan geopolitik di sekitarnya.

