Respon STC terhadap dinamika politik Yaman selatan sudah dapat diprediksi sejak beberapa waktu terakhir. Langkah-langkah strategis mereka mengikuti pola konsolidasi kekuasaan dan penguatan posisi sebelum melakukan manuver resmi di level nasional, dengan tujuan mendirikan Negara Arabia Selatan atau Yaman Selatan.
Dalam waktu dekat, diperkirakan Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC) Yaman akan mengalami reshuffle signifikan, karena STC mulai terang-terangan mengusung ideologi separatisme. Tiga anggota yang dianggap pro-STC kemungkinan akan diganti untuk mengakomodasi kepentingan wilayah selatan.
Salah satu calon pengganti yang paling menonjol adalah Gubernur Hadramaut, Salim Al-Khanbashi, yang dikenal memiliki pengalaman administrasi kuat dan hubungan baik dengan berbagai faksi lokal.
Selain itu, Amr bin Habresh, wakil gubernur Hadramaut, juga disebut-sebut akan masuk ke struktur PLC baru. Amr pernah diusulkan menjadi Panglima Wilayah Militer II di Mukalla, sehingga memiliki pengalaman strategis dalam bidang pertahanan.
Anggota ketiga yang akan menggantikan posisi pro-STC kemungkinan berasal dari tokoh yang bisa mewakili kepentingan Aden. Hal ini untuk memastikan PLC tetap seimbang antara utara dan selatan.
Reshuffle ini dianggap sebagai langkah taktis untuk menghadapi langkah STC dalam dinamika politik Yaman.
Meski demikian, Presiden PLC, Rashad Al-Alimi, harus mewaspadai manuver Tarik Saleh. Kehadiran Saleh dalam kancah politik selatan bisa mengubah perimbangan kekuatan yang telah dibangun PLC.
Jika Tarik Saleh memutuskan keluar dari PLC, kemungkinan besar ia akan membentuk PLC tandingan yang bersekutu dengan STC. Langkah ini dapat mengubah peta politik Yaman selatan secara drastis.
PLC tandingan yang muncul di Mokha akan menjadi tantangan baru bagi PLC yang saat ini berbasis di Riyadh. Mereka harus menghadapi dinamika multi front yang kompleks.
Kehadiran PLC tandingan ini bisa mirip dengan pemerintahan oposisi NUG di Myanmar, di mana ada dua pemerintahan atau dewan yang bersaing memegang legitimasi di mata publik dan internasional.
Dalam konteks negosiasi dengan Sanaa dan pihak Houthi, PLC tandingan berpotensi menyaingi PLC Riyadh, baik dalam diplomasi maupun pembagian wilayah pengaruh di lapangan.
Situasi ini menuntut Rashad Al-Alimi untuk menyiapkan strategi mitigasi agar loyalitas internal tidak terpecah dan konflik internal tidak melebar.
STC diperkirakan akan terus memanfaatkan momentum ini untuk memecah PLC dan menempatkan kepentingannya di PLC tandingan.
Pengaturan posisi Amr bin Habresh dan Salim Al-Khanbashi dianggap strategis karena keduanya memiliki basis pengaruh yang kuat di Hadramaut, salah satu wilayah kunci selatan.
STC tampaknya mengantisipasi segala kemungkinan, termasuk potensi PLC tandingan yang akan menimbulkan persaingan politik terbuka di wilayah selatan.
Kehadiran tokoh representatif Aden dalam reshuffle PLC diperkirakan akan menjadi pemerintahan paralel di Aden yang pro Alimi.
Jika proses reshuffle berjalan sesuai prediksi, struktur baru PLC akan lebih mengakomodasi kepentingan selatan dan PLC tamdingan akan mendukung STC.
Namun, risiko munculnya PLC tandingan membuat situasi tetap rapuh dan memerlukan pengawasan ketat di seluruh wilayah selatan.
Dalam jangka panjang, langkah reshuffle dan potensi PLC tandingan akan menentukan arah negosiasi perdamaian, terutama dalam konteks konflik multi front dengan Houthi di Sanaa.
Prediksi analis menyebut bahwa kemampuan STC mengelola perkembangan ini akan menjadi indikator kekuatan politik mereka dalam dua tahun ke depan.
Langkah-langkah STC dan reshuffle PLC dan pembentukan PLC tandingan menjadi cerminan pola politik yang realistis dan terukur, menunjukkan bahwa konflik Yaman selatan bukan sekadar pertarungan militer, tetapi juga manuver strategis di ranah politik dan diplomasi.

